Menembus Wilayah 3T Papua, Ini Misi Besar di Balik Penerjunan 8.178 Mahasiswa KKN-PPM UGM 2026

Ade Hikma

Ade Hikma

2 jam yang lalu

4 menit baca
Menembus Wilayah 3T Papua, Ini Misi Besar di Balik Penerjunan 8.178 Mahasiswa KKN-PPM UGM 2026

Mahasiswa KKN-PPM UGM 2026. Foto: Dok. Ist

YOGYAKARTA - Sebanyak 8.178 mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menjalankan program KKN-PPM UGM 2026 dari Lapangan Pancasila UGM menuju ladang pengabdian nyata di berbagai pelosok tanah air.

Ribuan intelektual muda ini dijadwalkan bakal menyatu dengan denyut nadi kehidupan masyarakat selama 50 hari ke depan, terhitung sejak 20 Juni hingga 8 Agustus 2026.

Skala penugasan periode ini terbilang masif. Mereka tersebar di 298 unit lokasi yang mencakup 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, lintas 32 provinsi di Indonesia.

Untuk mengawal pergerakan ini, UGM mengerahkan 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) serta menggandeng 199 mitra strategis, mulai dari level korporasi hingga jejaring alumni.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menggarisbawahi bahwa penugasan ini bukan sekadar pemenuhan beban SKS di atas kertas.

"Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).

Ova juga menitipkan pesan mendalam agar para mahasiswa jeli melihat dinamika riil di lapangan, terutama dalam menyumbang solusi konkret atas krisis ekologi dan pangan global di wilayah penempatan masing-masing.

"Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya.

Hadirnya Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, dalam upacara penerjunan tersebut membawa perspektif baru terkait arah pengabdian mahasiswa.

Pemerintah pusat tampaknya melihat barisan mahasiswa ini sebagai motor penggerak potensial untuk menyokong agenda hilirisasi dan tata ekonomi desa.

"Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkap Faisol.

Senada dengan hal itu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, mengingatkan bahwa laboratorium terbaik bagi seorang mahasiswa adalah masyarakat itu sendiri.

"KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," kata Arie.

Tahun ini, payung besar yang diusung bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM." Implementasinya pun merambah hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di tanah Papua.

Salah satu cerita perjuangan datang dari Tim KKN Raja Ampat Begisah yang bertolak menuju Kampung Samati dan Waim di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.

Dipimpin Rizki Abdillah dari Fakultas Psikologi, tim ini membawa misi memperkuat kedaulatan ekonomi pesisir dengan memperpanjang napas program terdahulu.

"Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," papar Rizki.

Tak hanya urusan isi dompet warga, tim ini juga membidik isu sanitasi yang krusial. Berkolaborasi dengan lembaga lingkungan internasional, mereka berniat menguji kelayakan konsumsi air bersih setempat.

"Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki, yang sempat jatuh bangun mencari pendanaan mandiri akibat absennya hibah kompetitif tahun ini.

Kisah serupa diukir oleh Tim KKN Biak Elok yang menapaki wilayah baru di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor.

Sarasvati Baktiantoro, mahasiswa Antropologi Budaya yang menakhodai tim ini, menyebut wilayahnya sebagai tantangan baru karena belum pernah dijamah unit KKN UGM sebelumnya.

"Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," kata Sarasvati.

Persiapan panjang sejak September tahun lalu menjadi modal berharga bagi Sarasvati dan kawan-kawan untuk menyerap kearifan lokal sekaligus mentransfer modal pengetahuan akademis ke timur Indonesia.

"Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya.

Perjalanan panjang menuju penjuru nusantara ini pada akhirnya menguji sejauh mana menara gading akademik mampu menapak bumi. Menutup pelepasan, Arie Sudjito memberikan wejangan terakhirnya.

"Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pungkas Arie.

Editor : Redaksi

Komentar

Berita Terkait