Mantan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah Wafat, Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Mendalam

Redaksi

Redaksi

1 jam yang lalu

2 menit baca
Mantan Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah Wafat, Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Mendalam

Mantan Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah, Foto: Dok. Ist

BANDA ACEH – Kabar duka menyelimuti Bumi Serambi Mekkah. Mantan Gubernur Aceh, dr. Zaini Abdullah, atau yang karib disapa Abu Doto, tutup usia pada umur 86 tahun.

Tokoh sentral yang juga pernah mengemban amanah sebagai Menteri Kesehatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh.

Berdasarkan data yang dihimpun, almarhum rencananya akan dipulangkan dan dikebumikan di tanah kelahirannya, Kabupaten Pidie.

Informasi dari otoritas terkait menyebutkan bahwa Abu Doto wafat pada siang tadi sekira pukul 12.26 WIB, Sabtu (13/6/2026).

Sebelum berpulang, sosok negarawan sepuh Aceh ini diketahui telah menjalani perawatan medis intensif selama beberapa pekan terakhir di rumah sakit pelat merah milik Pemerintah Aceh tersebut.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Pemerintah Aceh turut berduka atas berpulangnya dr. Zaini Abdullah. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhum serta memberikan kekuatan dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan," ungkap Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, kepada awak media.

Nurlis menambahkan, berpulangnya Zaini Abdullah menorehkan ruang kosong yang besar di hati masyarakat Aceh.

 Rekam jejak kehidupan Abu Doto dinilai sebagai manifestasi penuh pengabdian total, baik ketika dirinya bertugas mengenakan jas putih kedokteran maupun saat memegang tampuk tertinggi sebagai kepala daerah.

Jejak historis mencatat, Abu Doto memegang tongkat kepemimpinan Aceh pada periode 2012–2017. Kala itu, ia bersanding dengan Muzakir Manaf (Mualem) yang menduduki posisi sebagai Wakil Gubernur Aceh.

Sepanjang lima tahun masa baktinya, sederet cetak biru infrastruktur monumental berhasil dituntaskan.

 Salah satu warisan ikonik yang paling membekas adalah perombakan total halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

 Di bawah arahannya, halaman masjid bersejarah tersebut dipasangi payung-payung elektrik raksasa hingga menyerupai kemegahan Masjid Nabawi di Madinah.

Tak hanya fokus pada aspek religi, sentuhan kebijakan Abu Doto juga menyasar pada problem tata kota.

Ia menginisiasi pelebaran Jembatan Lamnyong yang sempat menjadi titik nadi kemacetan parah di Banda Aceh.

Infrastruktur vital yang menghubungkan akses utama menuju dua kampus jantung peradaban Aceh, yakni Universitas Syiah Kuala (USK) dan UIN Ar-Raniry, kini jauh lebih lengang berkat keputusannya kala itu.

"Pemerintah Aceh menyampaikan penghargaan atas jasa dan pengabdian almarhum kepada daerah dan masyarakat serta mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mendoakan almarhum agar memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga almarhum husnul khatimah dan segala amal pengabdiannya menjadi amal jariyah yang terus mengalir," pungkas Nurlis.(*)

Editor : Taufik Zass

Komentar

Berita Terkait