Kemenkes Ungkap Fakta Mengejutkan: 95 Persen Lansia di Indonesia Kurang Gerak

Ade Hikma

Ade Hikma

2 jam yang lalu

3 menit baca
Kemenkes Ungkap Fakta Mengejutkan: 95 Persen Lansia di Indonesia Kurang Gerak

Ilustrasi Lansia yang sedang melakukan cek kesehatan kepada dokter. Foto: Dok. shutterstock

JAKARTA - Menghadapi era ageing population di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berkomitmen penuh mencetak generasi lansia yang sehat, aktif, mandiri, serta bermartabat.

Langkah ini dimanifestasikan melalui perhelatan Indonesia Active Ageing Summit 2026 yang menjadi puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di gedung C RSPON, Jumat (12/6/2026).

Mengusung tema "Lansia Sehat dan Mandiri untuk Indonesia Berdaya", peringatan HLUN tahun ini diposisikan sebagai momentum krusial untuk memperkuat barisan strategi pemerintah.

Tujuannya jelas, menghadapi lonjakan jumlah penduduk lansia sekaligus memastikan mereka dapat menjalani kehidupan yang sehat dan produktif hingga usia senja.

Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, menyatakan bahwa tolok ukur keberhasilan pembangunan nasional tidak boleh sekadar bersandar pada grafik kenaikan angka harapan hidup.

Parameter utamanya adalah seberapa mampu masyarakat menjaga kualitas hidup, tetap aktif, dan bugar di hari tua.

"Tujuan kita bukan sekadar memperpanjang umur. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat dapat tetap aktif, produktif, dan bermartabat di usia lanjut. Kita ingin masyarakat Indonesia hidup lebih panjang dalam keadaan sehat, bukan hidup lebih lama tetapi dalam kondisi sakit," ujar dr. Benjamin.

Grafik demografi saat ini menunjukkan jumlah penduduk lansia di tanah air telah menembus angka kisaran 34 juta jiwa, atau menyedot hampir 12 persen dari total populasi nasional.

Seiring bertambahnya usia harapan hidup ini, Kemenkes kian gencar mempertebal tameng program promotif dan preventif guna menekan laju penyakit tidak menular (PTM) yang kerap menjadi biang keladi kecacatan serta kematian lansia.

Menurut dr. Benjamin, mayoritas beban penyakit yang mendera kelompok lansia sebenarnya bisa dipotong jalurnya melalui penerapan pola hidup sehat sejak usia produktif.

Penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, stroke, hingga gagal ginjal kini menjadi batu ujian besar yang menuntut konsensus penanganan bersama.

"Banyak kasus stroke dan gagal ginjal sebenarnya berawal dari hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol. Karena itu, upaya menjaga kesehatan harus dimulai sejak usia produktif melalui pola makan sehat, aktivitas fisik yang cukup, serta pemeriksaan kesehatan secara rutin," tuturnya.

Ia juga menyuntikkan pesan penting mengenai urgensi menjaga kebugaran fisik lewat rutinitas sederhana, seperti berjalan kaki atau berolahraga minimal 30 menit sehari dengan frekuensi lima hari dalam seminggu.

Olahraga teratur terbukti ampuh merawat fungsi organ, melancarkan sirkulasi darah, dan menjaga kemandirian gerak tubuh lansia.

Di samping mematangkan lini pelayanan medis konvensional, pemerintah tengah mendorong penguatan sistem perawatan jangka panjang (long-term care) yang berakar pada lingkungan keluarga dan komunitas.

Formula ini dinilai kontekstual mengingat volume lansia yang membutuhkan asistensi dan perawatan di rumah terus merangkak naik.

"Ukuran kemajuan bangsa bukan hanya seberapa jauh kita melangkah, tetapi juga siapa yang kita lindungi sepanjang perjalanan. Lansia bukan beban, melainkan aset bangsa yang harus dijaga kesehatan, fungsi, dan martabatnya," tegas dr. Benjamin.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, menjabarkan bahwa pihaknya terus memperluas gurita layanan kesehatan ramah lansia lewat cetak biru transformasi layanan primer.

Hingga saat ini, sebanyak 8.911 puskesmas di berbagai pelosok daerah telah mengadopsi sistem Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mencakup seluruh siklus hidup manusia, termasuk kelompok lanjut usia.

Tak hanya itu, sebanyak 9.013 puskesmas telah mengoperasikan layanan perawatan jangka panjang, dan 7.887 puskesmas telah resmi naik kelas menjadi puskesmas ramah lansia.

Kendati infrastruktur terus dipasok, hasil skrining kesehatan terhadap sekitar 6,8 juta lansia memuntahkan data yang cukup mengkhawatirkan dan memerlukan atensi khusus.

Berdasarkan catatan medis, sebanyak 95 persen lansia terekam kurang melakukan aktivitas fisik, 58 persen memiliki tensi darah di atas batas normal, dan 51 persen terjebak dalam kondisi kelebihan berat badan (obesitas).

"Data ini menunjukkan bahwa upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit harus terus diperkuat agar lansia Indonesia dapat tetap sehat, aktif, dan mandiri," pungkas dr. Endang.

Editor : Redaksi

Komentar

Berita Terkait