Rupiah Kian Tertekan, Tembus Rp18.000 per Dolar AS pada Pekan Pertama Juni

Redaksi

Redaksi

1 jam yang lalu

2 menit baca
Rupiah Kian Tertekan, Tembus Rp18.000 per Dolar AS pada Pekan Pertama Juni

Pegawai menunjukan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) dan rupiah di gerai penukaran uang atau money changer Ayu Masagung, Jakarta. Foto: Dok. Bisnis/Himawan L. Nugraha

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami tekanan hingga menembus level psikologis baru pada perdagangan tengah pekan ini. Mengutip data pasar spot Bloomberg pada Kamis siang, 4 Juni 2026 pukul 12.00 WIB, mata uang garuda melemah ke posisi Rp18.038 per dolar AS.

Posisi ini menunjukkan tren penurunan yang konsisten jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Sementara itu, merujuk pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia, pergerakan nilai tukar berada di rentang yang sejalan dengan fluktuasi pasar eksternal tersebut.

Berdasarkan data pasar pada Kamis, 4 Juni 2026, dikutip dari detik.com, kurs dolar AS tercatat bergerak di atas level Rp18.000. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap dampaknya pada berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, investasi, hingga daya beli masyarakat.

Sementara itu, data Google Finance menunjukkan dolar AS sempat berada di posisi Rp18.010 pada pukul 23.23 UTC atau sekitar 06.23 WIB. Setelah itu, kurs bergerak turun tipis ke level Rp17.971 pada pukul 00.15 UTC atau 07.15 WIB.

Adapun berdasarkan data Bloomberg, penguatan dolar AS terhadap rupiah tercatat mencapai 0,71 persen secara harian dengan posisi terakhir berada di level Rp17.966 per dolar AS.

Meski terdapat perbedaan angka antarplatform penyedia data, tren yang terlihat menunjukkan bahwa dolar AS masih berada dalam jalur penguatan terhadap mata uang Indonesia.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik. Penguatan dolar biasanya terjadi ketika investor mencari aset yang dianggap lebih aman atau ketika kondisi ekonomi Amerika Serikat menunjukkan performa yang lebih kuat dibanding negara berkembang.

Kondisi ini membuat tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, semakin besar. Akibatnya, biaya impor berpotensi meningkat dan berdampak pada harga sejumlah barang maupun bahan baku yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Level Rp18.000 juga menjadi perhatian karena merupakan salah satu batas psikologis penting dalam pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Editor : Redaksi

Komentar

Berita Terkait