Nama Riyaldi Menguat Jelang Musda KNPI Aceh Selatan, Dinilai Mampu Hadirkan Perubahan

Ade Hikma

Ade Hikma

2 jam yang lalu

3 menit baca
Nama Riyaldi Menguat Jelang Musda KNPI Aceh Selatan, Dinilai Mampu Hadirkan Perubahan

Riyaldi (kiri) berfoto bersama Bupati Aceh Selatan, H. Mirwan MS (kanan), dalam sebuah kesempatan di Tapaktuan. Dok.Ist

TAPAKTUAN - Dinamika menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pimpinan Cabang Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPC KNPI) Aceh Selatan mulai menghangat. Di tengah harapan besar terhadap kebangkitan organisasi kepemudaan tersebut, nama Riyaldi mulai mendapat dukungan dari sejumlah elemen pemuda.

Koordinator Kaukus Pemuda Peduli Aceh Selatan (KP2AS), Rusdiman, menilai Riyaldi merupakan figur yang tepat untuk memimpin KNPI Aceh Selatan dalam periode mendatang. Menurutnya, organisasi kepemudaan terbesar itu membutuhkan sosok yang mampu menghadirkan semangat pembaharuan, bukan sekadar mempertahankan pola lama yang cenderung stagnan dan seremonial.

“KNPI yang merupakan wadah berhimpunnya organisasi kepemudaan sudah seyogyanya menjadi lokomotif untuk mewujudkan Aceh Selatan yang maju dan produktif. Bukan sebatas organisasi pasif yang hanya melaksanakan kegiatan seremonial atau turnamen olahraga semata,” kata Rusdiman kepada wartawan, Rabu (10/6/2026).

Ia menilai momentum Musda kali ini menjadi titik penting untuk menghidupkan kembali peran strategis KNPI Aceh Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai kehilangan daya gerak dan minim kontribusi nyata terhadap pembangunan daerah.

Menurut Rusdiman, organisasi kepemudaan di era modern tidak lagi cukup hanya menjadi ruang kumpul elit pemuda atau kendaraan politik sesaat, tetapi harus mampu menjadi laboratorium gagasan dan pusat gerakan sosial yang produktif.

“KNPI harus benar-benar bangkit dengan sosok baru yang siap bergerak dan berkontribusi untuk pembangunan Aceh Selatan. Pemimpin KNPI ke depan harus punya komitmen membesarkan organisasi, bukan menjadikan organisasi sebagai batu loncatan politik pribadi,” ujarnya.

Rusdiman menyebut, Riyaldi dinilai memiliki rekam jejak organisasi yang baik sejak masa mahasiswa. Selain aktif di berbagai organisasi kepemudaan, Riyaldi juga dianggap memiliki kemampuan komunikasi lintas kelompok dan tidak memiliki catatan kontroversial.

“Kami melihat semangat pembaharuan dan kesiapan untuk mengayomi ada pada sosok Riyaldi. Karena itu, kami mendorong Riyaldi agar maju dalam Musda KNPI Aceh Selatan,” katanya.

Dalam pandangan KP2AS, tantangan terbesar KNPI Aceh Selatan saat ini bukan hanya soal regenerasi kepemimpinan, tetapi bagaimana mengembalikan marwah organisasi agar kembali relevan di tengah persoalan riil yang dihadapi generasi muda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tantangan kepemudaan di daerah masih cukup kompleks, mulai dari pengangguran usia muda, rendahnya akses kewirausahaan, hingga minimnya ruang pengembangan kapasitas pemuda di tingkat gampong. Dalam konteks itu, KNPI dinilai seharusnya mampu menjadi mitra strategis pemerintah sekaligus wadah advokasi kepentingan pemuda.

Rusdiman menegaskan, kepemimpinan KNPI tidak boleh lagi terjebak pada politik blok atau kelompok tertentu.

“Kita berharap tidak ada istilah blok A atau blok B. KNPI harus mampu merangkul multipihak dalam memperjuangkan kepentingan pemuda, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya independensi organisasi kepemudaan. Menurutnya, KNPI harus mampu menjadi sahabat pemerintah sekaligus pengontrol kebijakan publik.

“KNPI harus siap mendukung pemerintah jika kebijakannya benar, tetapi juga harus berani mengkritik jika kebijakan pemerintah salah. Organisasi kepemudaan tidak boleh menjadi penjilat kekuasaan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut dinilai relevan dengan kondisi banyak organisasi kepemudaan saat ini yang mulai kehilangan fungsi kontrol sosial akibat terlalu dekat dengan kepentingan politik praktis. Akibatnya, sebagian organisasi dinilai kehilangan kepercayaan publik dan gagal menjadi representasi suara generasi muda.

Rusdiman juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang membumi dan tidak eksklusif.

“Kepemimpinan organisasi kepemudaan harus mengakar sampai ke bawah, ke pemuda gampong dan OKP-OKP, bukan hanya berputar di elit organisasi,” katanya.

Ia bahkan meyakini, jika dipimpin figur dengan visi pembaharuan seperti Riyaldi, KNPI Aceh Selatan dapat mendorong lahirnya Qanun Kepemudaan sebagai payung hukum pembangunan pemuda daerah.

“Insya Allah jika amanah kepemimpinan KNPI diberikan kepada sosok seperti Riyaldi, maka kepemudaan Aceh Selatan akan lebih maju dan produktif,” pungkas Rusdiman.

Musda KNPI Aceh Selatan sendiri dipandang sebagai momentum penting untuk menentukan arah baru organisasi kepemudaan tersebut. Publik kini menanti apakah KNPI benar-benar mampu bertransformasi menjadi organisasi yang progresif, independen, dan dekat dengan persoalan riil generasi muda, atau justru kembali terjebak dalam rutinitas organisasi yang kehilangan daya pengaruh di tengah masyarakat.

Editor : Ade Hikma

Komentar

Berita Terkait