Bukan Ahli Gizi, Ini Rekam Jejak Pendidikan Kepala BGN Nanik S Deyang

Redaksi

Redaksi

1 jam yang lalu

4 menit baca
Bukan Ahli Gizi, Ini Rekam Jejak Pendidikan Kepala BGN Nanik S Deyang

Nanik S Deyang, Kepala Badan Gizi Nasional. Foto: Dok. BGN

JAKARTA - Peta kepemimpinan di tubuh lembaga pengelola program prioritas nasional resmi berganti arah. Presiden Prabowo Subianto baru saja melakukan perombakan besar-besaran di jajaran pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Sosok Nanik Sudaryati Deyang, atau yang lebih karib dikenal luas sebagai Nanik S Deyang, resmi ditunjuk dan dilantik sebagai Kepala BGN yang baru menggantikan posisi Dadan Hindayana pada Selasa, 2 Juni 2026.

Langkah pengangkatan ini mendadak menjadi sorotan tajam dan menarik perhatian publik, terutama karena latar belakang Nanik yang selama ini lebih lekat dengan dunia jurnalistik dan panggung politik praktis, bukan murni lahir dari bidang pakar gizi atau kesehatan masyarakat. Di ruang publik, banyak pihak yang kemudian bertanya-tanya mengenai riwayat akademisnya: Nanik S Deyang sebenarnya lulusan mana?

Berdasarkan data yang dihimpun, perempuan yang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968 ini mengawali pendidikan tinggi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Nanik S Deyang tercatat merupakan lulusan Fakultas Biologi Unsoed angkatan tahun 1983, tempat di mana ia berhasil meraih gelar Sarjana (S1) Biologi.

Fakultas Biologi Unsoed sendiri selama ini dikenal memiliki reputasi yang kuat dalam menggodok ilmu hayati, ekologi, serta konservasi alam. Fondasi pengetahuan ilmiah yang solid ini tampaknya menjadi dasar yang kuat bagi Nanik dalam memahami berbagai isu lingkungan dan kesehatan masyarakat secara makro.

Jajaran disiplin ilmu biologi memang dinilai sangat relevan dengan pemetaan bidang gizi karena mencakup pemahaman mendalam tentang metabolisme tubuh, ekosistem pangan, serta kesehatan manusia secara holistik. Meski bukan lulusan gizi murni, bekal pengetahuan biologi ini dinilai memberinya perspektif ilmiah kuat yang bisa mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) di BGN.

Setelah menyelesaikan studi sarjananya, Nanik memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang magister dengan menempuh S2 di Program Magister Ilmu Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pilihan studi Ilmu Kehutanan ini menunjukkan minatnya yang mendalam terhadap isu lingkungan, keberlanjutan ekosistem, serta tata kelola manajemen sumber daya alam.

UGM sebagai salah satu universitas terbaik di Indonesia tentu berhasil memberikan perspektif interdisipliner yang kuat kepada Nanik, dengan menggabungkan aspek ekologis, sosial, hingga instrumen ekonomi dalam pengelolaan hutan. Pendidikan S2 di bidang kehutanan ini dinilai memiliki relevansi erat dengan tantangan gizi nasional saat ini, terutama yang berkaitan langsung dengan isu ketahanan pangan (food security) serta diversifikasi sumber nutrisi dari alam.

Pengetahuan matang mengenai ekosistem dan keberlanjutan bisa menjadi modal penting bagi Nanik dalam merancang program gizi nasional yang tidak hanya fokus pada rantai distribusi makanan, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan pasokan pangan lokal jangka panjang.

Dari segi rekam jejak karier, Nanik memulai langkah profesionalnya sebagai seorang jurnalis di Tabloid Bangkit, yang merupakan bagian dari Kelompok Kompas Gramedia. Ia kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi manajerial strategis di lini media massa, seperti Pemimpin Umum Majalah Femme, Direktur Utama Tabloid Info Kecantikan, serta menduduki kursi Komisaris di beberapa tabloid nasional lainnya.

Pengalaman panjang di bidang komunikasi publik ini menjadi nilai tambah yang sangat kuat ketika ia memutuskan terjun ke dunia pemerintahan. Di ranah politik, ia dikenal aktif mendukung penuh Prabowo Subianto sejak kontestasi Pilpres 2019 dan sempat dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi. 

Sebelum menjabat Kepala BGN, Nanik sempat mengemban jabatan sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan, Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), serta Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publikasi dan Investigasi.

Pengangkatan Nanik sebagai nakhoda baru di BGN kini disambut secara beragam oleh berbagai kalangan. Di satu sisi, modal pengalamannya yang matang di bidang komunikasi publik diharapkan dapat dengan cepat memperbaiki citra institusional BGN yang sempat terganggu oleh berbagai isu miring, termasuk beberapa kasus keracunan makanan dalam simulasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di sisi lain, sebagian publik masih menyuarakan keraguan dan mempertanyakan latar belakangnya yang tidak sepenuhnya bersifat teknis di bidang ilmu gizi. Namun, dengan perpaduan fondasi S1 Biologi Unsoed dan S2 Ilmu Kehutanan UGM, ditambah jalinan pengalaman lintas sektor yang kaya, Nanik diyakini mampu membawa pendekatan yang lebih holistik dan interdisipliner.

Tugas utama yang kini menanti Nanik S Deyang ke depan adalah membenahi total tata kelola program MBG, memperluas jangkauan sasaran, menekan angka stunting secara nasional, serta mendongkrak kualitas gizi anak sekolah hingga ibu hamil di seluruh pelosok negeri.

Editor : Ade Hikma

Komentar

Berita Terkait