Panen Perdana Bawang Merah Digelar di Lahan Pascabanjir Pidie Jaya

Nana

Nana

2 jam yang lalu

2 menit baca
Panen Perdana Bawang Merah Digelar di Lahan Pascabanjir Pidie Jaya

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, Foto: ist

PIDIE JAYA – Lahan pertanian yang sebelumnya terdampak banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya mulai kembali dimanfaatkan. Petani di Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, melaksanakan panen perdana bawang merah, Selasa (7/7/2026), sebagai bagian dari program budidaya tanaman rotasi di lahan pascabencana.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi masyarakat melalui sektor pertanian.

“Program ini tidak hanya berfokus pada pemulihan lahan terdampak bencana, tetapi juga mendorong masyarakat agar dapat kembali berproduksi, memperoleh penghasilan, serta meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga,” kata Agus.

Ia menjelaskan, program budidaya bawang merah merupakan hasil sinergi Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Universitas Syiah Kuala (USK), dan kelompok tani setempat. Pendampingan dilakukan mulai dari pemetaan lahan hingga penerapan praktik Good Agricultural Practices (GAP).

“Melalui pendampingan dan praktik GAP yang berkelanjutan, lahan bekas banjir diharapkan tidak hanya sekadar memanen bawang, tetapi juga membangun model pemulihan ekonomi masyarakat berbasis pertanian,” ujarnya.

Program tersebut dikembangkan di lahan seluas lima hektare dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Selain bawang merah, turut dikembangkan cabai dan jagung untuk mengidentifikasi komoditas yang sesuai dibudidayakan di lahan bekas banjir. Menurut Bank Indonesia, budidaya bawang merah juga diharapkan dapat mendukung stabilitas harga karena merupakan salah satu komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi di Aceh.

Guru Besar Fakultas Pertanian USK, Prof. Rina Sriwati, mengatakan tim pendamping melakukan survei kondisi lahan dan analisis unsur hara tanah sebelum budidaya dilakukan.

“Pendampingan diawali dengan survei kondisi lahan dan analisis kandungan unsur hara tanah yang tertimbun material banjir sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan, penyediaan nutrisi tanaman, sistem penyiraman menggunakan sprinkler, hingga pengendalian hama dan penyakit,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, menyebut panen perdana tersebut menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian pascabanjir.

Ia mengatakan pemerintah daerah bersama Pemerintah Aceh juga sedang menyiapkan rehabilitasi gratis bagi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat agar petani dapat kembali bercocok tanam.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, yang mewakili bupati, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut.

“Program ini merupakan bagian dari pembinaan Bank Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus pengendalian inflasi daerah melalui pengembangan komoditas strategis,” kata Munawar.

Di sisi lain, anggota Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh, Muhammad Nurdin, mengaku sempat kehilangan harapan setelah sawahnya tertutup pasir dan lumpur akibat banjir. Namun, melalui pendampingan dan bantuan yang diterima, ia bersama petani lainnya kini kembali dapat memanen bawang merah.

Editor : Nana

Komentar

Berita Terkait